Uncategorized

SUDAH RAPIKAH ANDA?

Photo : Google

Sebuah frasa yang selalu tertulis di bagian bawah cermin besar yang ada disetiap markas komandan kompi dan komandan batalyon jajaran Angkatan Darat. Frasa ini sengaja ditulis dengan huruf besar dan selalu dipakai oleh komandan untuk melihat kerapihan diri sebelum bertindak atau menjadi pimpinan apel satuannya. Sehingga, saat apel dimana komandan berdiri di depan pasukannya, komandan terlihat rapi.

Benar terlihat rapi di depan anak buahnya. Tetapi bukan hanya rapi pakaian yang dituju frasa tersebut. Kalau itu tujuannya, maka kalimatnya akan berbunyi sudah rapikah pakaian anda?. Lebih jauh dari sekadar kerapihan berpakaian, yaitu rapi luar dalam seorang komandan sebagai tuntutan syarat, sifat dan prinsip kepemimpinan.

Sebuah frasa yang diwariskan oleh para pendahulu TNI. Warisan sederhana tetapi sangat dalam makna moralnya, agar komandan bersih dan lugas dalam kepemimpinannya. Sehingga ia dapat memimpin, memberikan instruksi, perhatian atau koreksi kepada anggotanya tanpa merasa ada yang bermasalah. Ing ngarso sung tulodo (di depan anggota memberi teladan); Ing madyo mbangun karso (bersama anggota berbuat terbaik),dan; Tutwuri handayani (dari belakang mendorong anggotanya). Tiga filosofi ini yang menjadi tujuan.   

Ternyata, warisan yang terlihat sepele ini bukan barang sepele untuk menjadi sifat, budaya dan kebiasaan pimpinan, khususnya di level atas. Barangkali, benang kusut bangsa ini akibat ulah banyak pimpinan yang tidak rapi. Kalimat ini diwariskan setidaknya untuk mengingatkan moral pemimpin, agar rapi dalam kehidupan dan kesehariannya, sebab ia menjadi panutan baik di dalam institusi maupun lembaganya.

Sayang saat ini tulisan inipun hanya tertulis di markas-markas kompi atau batalyon dimana para pemimpinnya masih menjalankan kepemimpinan tatap muka (face to face leadership). Begitupun, di markas-markas yang lebih tinggi, frasa tersebut jarang terlihat, walaupun tidak di semua markas. Mungkin karena itu, banyak persoalan terjadi akibat dari kepemimpinan.

Frasa ini perlu diungkap, karena sangat penting maknanya, setidaknya selalu mengingatkan moralitas para pimpinan agar selalu bersih lahir bathin agar terhindar dari perbuatan yang mengotori kepemimpinannya. Lihat saja kasus ditangkapnya Hakim Agung Sudrajat Dimyati, kasus Sambo, atau apa yang diingatkan oleh Presiden Jokowi melalui pengecekan urine para pimpinan Polri beberapa waktu lalu saat hadir di istana.

Haruskah tanggung jawab para pimpinan baik sipil, militer maupun kepolisian diambil alih oleh Presiden?. Ironi kepemimpinan!. Padahal para pimpinan adalah pembina yang bertanggung jawab terhadap institusi atau lembaganya, sehingga institusi dan anggotanya terhindar dari hal-hal tercela yang tidak boleh dilakukan aparatur. Kalau dikatakan tidak ada keberanian mungkin naif, barangkali ada yang tidak rapih.

Hedon yang tiba-tiba viral belakangan ini,  adalah gaya hidup manusia atau perbuatan atau perilaku atau life style sesorang yang suka sekali berfoya-foya dalam menghabiskan uang atau bisa disebut gaya hidup boros. Melihat fenomena pemimpin saat ini, kata ini diucapkan oleh Presiden Jokowi untuk seluruh pejabat yang membantu Presiden dalam kepemimpinannya. Barangkali sialnya Polri.

Peringatan gaya hidup hedon sebagaimana diungkap Presiden, sesungguhnya ditujukan kepada semua pimpinan organisasi pemerintahan. Ironi dan kasihan Presiden Jokowi masih harus mengambil alih tanggung jawab para pemimpin yang dipihnya.  

Apabila dirunut lebih jauh, dari mana gaya hidup hedon bisa dilakukan oleh unsur-unsur pimpinan dalam pemerintahan?. Ujungnya perilaku korupsi, kecurigaan masyarakat yang terus tumbuh. Sehingga tidak heran apabila survey Libang Kompas mengatakan kepercayaan kepada pemerintahan Jokowi mengalami penurunan drastis menjelang akhir tahun 2022. 

Ungkapan di cermin, “sudah rapikah anda”, yang bermakna rapi lahir batin juga dimaknakan pimpinan harus bertanggung jawab apa yang diperbuat dan tidak diperbuat anak buahnya. Mengapa lari kepada tanggung jawab?, kerapihan diri lahir bathin adalah wujud kesediaan bertanggung jawab. Pada masa lalu, kalau ada kesalahan suatu kesatuan militer, maka selain pimpinan kesatuan itu yang terkena sanksi, maka pimpinan dua tingkat diatasnya akan terkena sanksi atas tanggung jawab jabatannya karena gagal membina.

Dalam kapasitasnya sebagai pembina para pimpinan adalah pejabat yang bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi di dalam institusi atau lembaganya. Memang berat kalau bicara tanggung jawab, karena di dalamnya ada  manusia, alat peralatan dan anggaran yang harus dipertanggung jawabkan. Itu karenanya pimpinan diberi perangkat pembantu pengawasan dan pegendalian baik manusia, alat peralatan maupun anggaran.

Lihat kasus kebakaran kantor Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu. Masyarakat hanya tahu kebakarannya, tetapi tidak tahu siapa yang bertanggung jawab. Sungguh enak menjadi pejabat di Indonesia tidak mudah terkena tuntutan tanggung jawab, apalagi kesediaan mundur untuk bertanggung jawab. Entah kapan moralitas menjadi back bone, seperti mundurnya Perdana Menteri Inggris Liz Truss atau Boris Johnson atau lainnya.

Melihat heboh di Polri beberapa bulan terakhir sejak kasus Sambo mencuat kepermukaan, ada beberapa peristiwa ikutan pasca kasus tersebut. Sambo adalah garda terdepan di Polri yang dipercaya Kapolri untuk penertiban Polisi. Power tends to corrupt, mungkin power nya terlalu besar sebagaimana berita yang beredar. Dengan power ditangan, ia justru melakukan kejahatan yang konon dikatagori pembunuhan berencana. Paradoks!.

Dalam konteks organisasi, Sambo adalah pejabat langsung di bawah Kapolri. Bahkan banyak cerita burung menyebut calon Kapolri dimasa mendatang. Benar, bahwa pembunuhan dalam kasus ini tanggung jawab Sambo, tetapi siapa pembina Polri?. Inilah persoalan yang banyak mendapat sorotan masyarakat. Yang pasti pembina TNI adalah Panglima.  

Belum lagi kasus judi online rentetan dari kasus Sambo yang melibatkan beberapa pejabat Polri, kasus Kajuruhan yang mengakibatkan kematian lebih dari 125 orang, serta kasus lain dalam masa tersebut, seperti kasus narkoba yang melibatkan Kapolda dll. Demikian pula kasus urine positif yang viral dalam pemeriksaan di Istana. Haruskah pembina tidak bertanggung jawab. 

Inikah makna tanggung jawab dalam kepemimpinan?. Memprihatinkan.  

Penulis: Letjen Pur Bambang Darmono

Leave a Reply

Back to top button