Security

NASIONALISME UNGGUL TERHADAP SISTIM SENJATA TEKNOLOGI DI UKRAINA

Penulis: Letjen (Purn) Bambang Darmono

Perang Ukraina dimulai oleh Rusia pada 24 Februari 2022, dengan tujuan demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina. Invasi diawali dengan latihan bersekala besar pasukan Rusia dengan kekuatan 100.000 personel yang digelar disepanjang perbatasan Ukraina. Memang sudah dan mudah diduga bahwa Rusia akan menginvasi Ukraina pasca latihan ini.

Dalih politik Rusia menyerang Ukraina adalah kebuntuan tujuh tahun atas kegagalan Ukraina menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, yang berujung pada pengakuan kemerdekaan republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Banyak pihak menganalisis mengapa Rusia memaksakan perang ini dengan menjalankan operasi milter khusus (special military operation). Sepertinya, ada satu argumen yang relevan dengan intensi Rusia, yaitu kepentingan geopolitik. Rusia sangat berkepentingan untuk tetap mengontrol wilayah Heartland, oleh karena itu  harus berbuat ketika Ukraina sebagai negara yang memiliki emosional sejarah dan kebangsaan yang sama tetapi justru menghendaki bergabung NATO.

Sejak pecahnya Uni Sovyet, banyak negara Eropa Timur, Eropa Tengah dan Baltik bergabung dengan EU dan NATO. Sebagai negara yang ingin tetap mengkontrol wilayah Heartland, Rusia merasa dikurung (contaiment) oleh negara-negara Eropa Barat yang berada di wilayah Rimland.

Terkait dengan kepentingan mengontrol Heartland, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Tunxi, China, mengatakan, setiap kehadiran militer NATO di Asia Tengah akan merusak keamanan blok pimpinan Moskow. “Kami percaya keberadaan infrastruktur AS dan NATO di wilayah negara-negara tetangga, terutama di Asia Tengah tidak dapat diterimaā€¯.

Dengan dalih membebaskan Donbass dan menjadikannya negara merdeka terpisah dari Ukraina sekaligus negara boneka, Rusia melancarkan operasi militer khusus ke Ukraina. Terkait dengan kepentingan ini, banyak argumentasi lain yang juga di framing Rusia untuk memperkuat klaim invasi dan pembentukan negara boneka Rusia di Donbass.

Mencegah campur tangan NATO atas operasi militer yang dilancarkan, sejak pernyataan operasi, gertakan (blufing) terus dikembangkan dan dilontarkan oleh Presiden Putin kepada negara-negara NATO dan EU khususnya Amerika Serikat. Ancaman pemanfaatan senjata nuklir terus dilancarkan oleh Rusia. Bahkan pengiriman bantuan militer berupa senjata-senjata Anti Tank dan Anti Pesawat Udara serta sistim senjata lain yang dikategorikaan MANPADS untuk Ukraina yang disiapkan oleh negara NATO, juga penuh ancaman dan sanksi Rusia. Wilayah Ukraina dijadikan wilayah No Fly Zone dan dunia tercekam oleh ancaman Rusia yang menjurus pada perang dunia ketiga.

Berbagai bantuan kemanusiaan untuk memberi ruang jalur pengungsian yang disebut sebagai humanitarian corridor, disepakati oleh Rusia dalam beberapa kali pembicaraan damai, tetapi menurut pemberitaan televisi Eropa tidak pernah berjalan mulus. Gangguan atas pelaksanaan humanitarian corridor terus dilakukan oleh Rusia apalagi bagi penduduk yang berada di daerah Mariupol. Lebih dari 4 juta pengungsi telah keluar dari wilayah Ukraina menggunakan jalur darat kenegara-negara sekitar Ukraina sejak invasi Rusia.

1 2 3 4 5Next page
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button