Strategic

SEA POWER VERSUS CONTINENTAL POWER DALAM PERANG RUSIA UKRAINA

Penulis: Letjen (Purn) Bambang Darmono

Pada tanggal 24 Februari 2022, secara sepihak Rusia dalam hal ini Presiden Putin menyatakan untuk melaksanakan special military operation dengan tujuan untuk mendemiliterisasi dan mendenazifikasi Ukraina. Benarkah terminologi special military operation digunakan untuk memulai hajatan perang Ukraina?.

Melihat skala kampanye militer pada kenyataannya Rusia tidak hanya sekadar melaksanakan operasi militer khusus. Dalam terminologi militer, operasi militer khusus pada dasarnya lebih kecil skalanya dari pada operasi militer. Rusia dalam invasinya, nyata-nyata menjalankan perang tanpa pernyataan perang. Sebuah pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa (Geneva Convention). Itu karenanya banyak negara menyatakan bahwa Rusia sedang memaksakan illegal war.

Menurut Putin, tujuan demiliterisasi dan denazifikasi ini adalah untuk membela orang-orang yang selama delapan tahun menderita penganiayaan dan genosida oleh rezim Kiev (mereka-mereka yang berada di Donbas). Presiden Ukraina membantah apapun pernyataan Putin terkait invasinya. Dalam pernyatannya, Zelensky mengatakan kepada dunia khususnya Eropa dan AS, “bersama-sama kita harus menyelamatkan dunia demokrasi dan kita akan melakukannya”.

Tentang kebangsaan Ukraina, menurut sejarah, sesungguhnya Rusia dan Ukraina adalah satu bangsa, berasal dari Kekaisaran Kievan Rus yang sekarang berada di wilayah Ukraina dengan ibu kotanya di Kiev. Wilayah kekuasaannyapun terus berkembang ke Utara termasuk Moskow.

Akibat invasi Imperium Mongol dan kemudian Imperium Golden Horde, Kekaisaran Kievan Rus terpecah menjadi wilayah kecil-kecil yang sebagian besar dalam kontrol Golden Horde sampai lahirnya kerajaan independen di wilayah Moskow. Kerajaan ini kemudian berkembang menjadi Kekaisaran Rusia, selanjutnya menjadi Imperium Rusia dan akhirnya menjadi Uni Sovyet.

Pada tahun 1991, di Ukraina dilaksanakan sebuah referendum dan pemilihan presiden pasca pecahnya Uni Sovyet, Pemimpin Republik Sovyet Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya dari Moskow. Dalam referendum dan pemilihan presiden ini, Ukraina menyetujui kemerdekaan dan memilih Presiden Kravchuk sebagai Presiden Ukraina.

Sejak memenangkan pemilihan presiden tahun 2019, Presiden Zelensky menyatakan keinginan bergabung dengan EU, bahkan NATO. Rusia menunjukkan ketidak senangannya. Dapat diduga pasti, secara geopolitik Rusia merasa sangat dirugikan apabila Ukraina menjadi anggota NATO. Sebagai negara terbesar yang mengontrol wilayah tersebut, Rusia akan kehilangan negara yang diharapkan menjadi buffer untuk menyangga keamanan dan ancaman dari NATO.

Untuk melihat persoalan ini secara dalam, teori kelasik geopolitik yang masih berlaku hingga sekarang dapat dirujuk. Pertama, teori Heartland yang digagas oleh Mackinder, dan kedua teori Nicholas John Spykman dalam teori kelasik geopolitiknya Rimland, yaitu daerah diluar daerah inti dalam teori Mackinder.

Dalam teori Heartland, daerah yang dimaksud Mackinder adalah kawasan antara Sungai Volga (dikenal sebagai sungai nasional Rusia) sampai dengan Sungai Yangtze di China serta antara Pegunungan Himalaya sampai dengan Laut Arktik. Teori ini mengatakan, whoever controls Eastern Europe control the heartland. Terkait dengan pernyataan ini, any political power based in the heart of Eurasia could gain strength to eventually dominate the world. Pada dasarnya teori ini mengatakan penguasaan heartland merupakan langkah awal untuk penguasaan Pulau Dunia (Asia, Eropa dan Afrika) dan kemudian penguasaan dunia.

Ketika Uni Sovyet pecah dan sebagian negara-negara Eropa Timur memisahkan diri, bergabung EU dan bahkan NATO, Putin merasa kehilangan akar kekuatan untuk tetap menjadi penguasa heartland, apalagi Ukraina yang langsung berbatasan dan memiliki emosional sejarah sebagai satu bangsa ingin bergabung dengan NATO.

Berlawanan, dengan Teori Heartland yang digagas Mackinder, yaitu teori Rimland yang digagas oleh Spykman, “who controls the Rimland, rules Eurasia. Who rules Eurasia control the destinies of the world”. Rimland dalam pikiran Spykman adalah wilayah diluar heartland.

Dengan merujuk pada kedua teori geopolitik kelasik ini terlihat jelas, bahwa negara-negara yang berada di Rimland yaitu negara-negara di Eropa Barat yang mayoritas adalah negara-negara yang tergabung dalam EU dan NATO. Dalam kontek jumlah pasca bubarnya Uni Sovyet, negara yang tergabung kedalam NATO semula hanya 11 negara tetapi sekarang telah menjadi 30 negara.

Perkembangan pesat jumlah anggota NATO yang menarik negara-negara Eropa Timur, Eropa Tengah dan Baltik, memberi petunjuk bahwa secara geopolitik kekhawatiran Rusia memiliki argumentasi yang kuat. Dari peta politik ini terlihat jelas bahwa negara-negara yang berada di wilayah Rimland mengurung dan mengancam Rusia negara penguasa wilayah Heartland.

Dari pegerakan peta politik ini, dapat dipahami bahwa Rusia merasa dikurung oleh NATO, yang akan sangat mungkin mendorong terjadinya hegemoni EU dan NATO atas wilayah heartland, terlebih apabila Ukraina sebagai negara yang langsung berbatasan dengan Rusia diterima sebagai anggota NATO.

Dalam analisis ini terlihat teori Rimland Spykman, siapa yang mengontrol Rimland dia akan mengkontrol Eurasia dan selanjutnya akan mengontrol dunia. Barangkali bahasa strategi yang biasa dipakai adalah mengurung (containment) dalam hal ini Rimland mengurung Heartland.

Negara-negara yang berada di wilayah Rimland adalah negara-nagara yang memiliki akses kuat ke laut dan berusaha menguasai lautan atau negara-negara yang memiliki kekuatan di laut (sea power) yang umumnya adalah anggota NATO. Sementara negara-negara yang di kawasan Heartland adalah negara yang mengandalkan kekuatan darat (continental power).

Perang Ukraina memang belum menjadi perang yang mempertahankan eksistensi Sea Power versus Continental Power. Kalau ini terjadi, inilah peraang dunia ketiga. Tetapi sense of togetherness dalam masyarakat Eropa nyata terlihat dari solidaritas EU dan NATO terhadap Ukraina, yang berujung pada resolusi PBB.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button