Democracy

GAME OF THRONES: TANGSEL EDITION

“When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground”

Cersei Lannister

Kutipan di atas merupakan kalimat yang diucapkan oleh Cersei Lannister, salah satu tokoh fiksi dalam novel karya George R.R. Martin yang kemudian diadaptasi menjadi salah satu serial TV terkenal, yakni Game of Thrones. Bergenre fantasi-kerajaan dengan latar belakang perebutan kekuasaan dari berbagai klan, serial ini memang erat kaitannya dengan intrik-intrik politik seperti yang digambarkan pada kutipan di atas. Serial tersebut kini memang telah selesai. Namun, di Indonesia tepatnya di pinggiran sebelah selatan ibukota Jakarta, sebuah Game of Thrones berikutnya telah disiapkan. Dengan panggung daerah strategis dan kekuasaan sebagai iming-imingnya serta banyaknya tokoh yang terlibat. Sebuah pertarungan yang tak kalah epik telah menanti. Selamat datang di Pilkada Tangerang Selatan 2020.

Memang, panggung politik modern tidak memberikan konsekuensi berupa “kematian” seperti pada kutipan di atas. Namun, fakta tidak bisa berbohong bahwa dalam sebuah ajang perebutan kekuasaan hanya ada menang ataupun kalah, tidak ada “hadiah hiburan” atau suvenir untuk sekedar berpartisipasi. Sebuah pertaruhan besar mengingat panggung politik zaman sekarang secara tidak langsung mensyaratkan harta sebagai jaminan. Kalah mungkin bukan hanya sekedar rasa malu yang didapat, tapi juga kerugian secara finansial. Namun, hal tersebut tidak menghilangkan minat 46 orang untuk mendaftar sebagai bakal calon walikota Tangsel (Tangerang Selatan-red) periode 2020-2025. Empat puluh enam orang telah mencalonkan diri melalui berbagai partai politik. Latar belakangnya pun beragam, mulai dari anak Wakil Presiden, wakil walikota petahana, kerabat dari walikota, hingga tukang galon, dan ojek online.

Layaknya perebutan kekuasaan dalam dunia fantasi, beberapa dari calon tersebut memang mempunyai modal berupa amunisi yang lebih mumpuni, baik berupa harta, reputasi, maupun sekutu dari jejaring sosial mereka. Salah satu yang paling menarik tentu adalah kehadiran Siti Nur Azizah, putri dari wakil presiden Republik Indonesia, K.H. Ma’ruf Amin. Meski baru pertama kali terjun langsung ke dalam panggung politik, namun nama besar sang ayah otomatis membuatnya mendapat sorotan media dan atensi publik. Gerilya politik pun telah dilakukan oleh mantan PNS Kementrian Agama tersebut, diantaranya dengan menemui berbagai komunitas masyarakat, dan meluncurkan visinya yang ia sebut sebagai “Permata Tangsel” (Pemerataan Kemajuan untuk Kesejahteraan Tangsel).

Mengingat Tangsel merupakan bagian dari Provinsi Banten, tentu kita tidak bisa melepaskannya dari nama Ratu Atut Chosiyah beserta keluarganya. Ia merupakan mantan Gubernur Banten yang kini mendekam di penjara karena kasus korupsi. Bagi masyarakat beliau erat kaitannya dengan istilah “politik dinasti” karena banyak dari anggota keluarganya yang menjadi pejabat publik di Banten, tak terkecuali walikota Tangsel menjabat, Airin Rachmi Diany yang tak lain merupakan adik ipar dari Ratu Atut. Meski kini Airin tidak bisa mencalonkan diri lagi selepas periode masa jabatan keduanya, bukan berarti dinasti ini akan melepaskan cengkeramannya. Terbukti, ada dua nama kandidat yang terkait dengan keluarga mereka, yakni Aldrin Ramadian selaku adik dari Airin, dan Pilar Saga Ichsan, anak dari mantan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah sekaligus ponakan dari Ratu Atut. Nama terakhir bahkan santer dikabarkan akan maju sebagai calon wakil walikota Tangsel, mendampingi Benyamin Davnie, wakil walikota petahanan, dan diusung oleh Partai Golkar, kendaraan politik utama Ratu Atut.

Kasus di atas paralel dengan teori permainan atau game theory yang dikemukakan oleh Pastine, Pastine dan Humberstone (2017). Sebagaimana dalam permainan catur, pada dasarnya di dalam konteks politik teori ini menjelaskan bagaimana para aktor politik berusaha menjalankan langkah-langkah rasional untuk mendapatkan tujuannya yang sangat bergantung pada langkah lawan-lawannya. Masing-masing pemain menjalankan strateginya dengan asumsi bahwa mereka memegang “informasi” yang tidak diketahui oleh pihak lain untuk melancarkan strateginya dengan perhitungan untung rugi dan berdasarkan antisipasi terhadap pergerakan lawan.

Di dalam kasus Pilkada Tangsel, hal tersebut bisa dilihat dari para bakal calon yang seakan berlomba-lomba mengampanyekan dirinya, bahkan sejak jauh-jauh hari. Deklarasi satu calon diikuti oleh yang lain hingga akhirnya mencapai jumlah yang masif. Meski motifnya bisa bermacam-macam, fakta bahwa petahana yang tidak bisa mencalonkan kembali dan Ratu Atut yang masih mendekam di penjara menjadikan Pilkada Tangsel sebagai salah satu kesempatan emas untuk menggulingkan praktik politik dinasti Ratu Atut. Daerah yang strategis karena selalu kedatangan investor, terutama dari bidang properti dan fakta bahwa 7 kecamatan di kota Tangsel memiliki karakteristik yang cukup berbeda satu sama lain, membuat kontestasi ini begitu menjanjikan bagi para aktor politik. Calon-calon baru merasa mempunyai informasi eksklusif yang bisa menjadi senjata andalan, entah untuk mematikan atau justru bekerja sama dengan lawan. Hal ini dapat menjelaskan fenomena banyaknya bakal calon peserta dimana masing-masing dari mereka umumnya mempunyai modal berupa latar belakang atau dukungan komunitas tertentu. Lolos bursa pencalonan atau tidak, hal ini bisa menjadi nilai jual untuk berkoalisi dengan pihak lain.

Lalu, bagaimanakah ending dari Game of Thrones versi kearifan (politik) lokal ini? Entahlah. Seperti versi buku dari serial tersebut, permainan ini mungkin masih menyimpan banyak konflik dan twist untuk para audiensnya. Namun, tidak seperti Game of Thrones, hasil tersebut akan sangat berpengaruh pada dunia nyata. Kali ini bukan George R.R. Martin yang menentukan, namun rakyat Tangsel lah yang akan menentukan sendiri ending-nya.

Penulis : Tim Peneliti IDESSS

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button