Democracy

DUEL POLITIK DIVA KARAWANG

Setelah beberapa saat istirahat dari nuansa politik yang ditimbulkan selama proses pemilu presiden 2019 yang lalu, beberapa wilayah di Indonesia pada tahun ini akan kembali lagi melaksanakan pesta demokrasi tersebut melalui momen pemilihan kepala daerah (pilkada). Mengacu pada pernyataan yang disampaikan oleh KPU, pilkada tersebut akan dilaksanakan pada 23 September 2020. Dengan cakupan pelaksanaan di 270 daerah, pilkada ini akan meliputi pemilihan  untuk sembilan gubernur, 224 bupati, dan 37 walikota.

Dari berbagai daerah tersebut, Kabupaten Karawang adalah salah satu diantaranya. Dengan luas wilayah sebesar 1.737 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 2.316.489 jiwa, daerah ini akan memilih Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati pada pilkada serentak tersebut. Peristiwa ini tentu akan menjadi semakin menarik ketika mengetahui tingginya tingkat partisipasi politik masyarakat Karawang dalam pemilu. Dengan jumlah pemilih sebanyak lebih dari 1,6 juta jiwa, partisipasi masyarakat Karawang dalam pemilu berada di atas angka 60%. Hal tersebut dapat dilihat dari pemilu yang berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya seperti pemilihan gubernur pada tahun 2018 dengan partisipasi sebesar 66.84% dan pemilihan presiden pada tahun 2019 dengan partisipasi  sebesar 79,23%.

Disisi lain, bakal calon Bupati yang mulai bermunculan juga tidak kalah menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, dari beberapa bakal calon Bupati yang muncul terdapat beberapa tokoh perempuan yang turut berupaya untuk maju menjadi bakal calon bupati dengan. Beberapa tokoh yang muncul, dua di antaranya adalah Cellica Nurrachadiana dan Gina Fadlia Swara. Dua Srikandi Karawang ini menjadi hangat dalam pembahasan di beberapa media dikarenakan sosoknya yang berpeluang untuk maju sebagai calon bupati Karawang.  Hal ini dapat dijelaskan dengan melihat kekuatan atau modal yang dimiliki keduanya dalam ajang tersebut.

Sebagaimana halnya Cellica Nurrachadiana yang saat ini berstatus sebagai petahana. Kondisi ini tentu akan membuatnya menjadi lebih mudah dalam menarik dukungan massa karena dapat mengandalkan penilaian terhadap kinerjanya selama memimpin Karawang. Contohnya adalah dengan memperlihatkan perolehan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama beberapa tahun sebelumnya,  juga dapat memperlihatkan kinerja lainnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, fasilitas umum dan lainnya. Selain itu, posisinya dalam partai politik yakni sebagai ketua DPC Partai Demokrasi Karawang juga dapat menjadi salah modal politik terbesarnya. Sebab dengan kemampuan dan kecermatannya dalam memilih calon legislatif, Cellica berhasil membawa partai Demokrat sebagai partai dengan perolehan kursi DPRD terbanyak pertama pada pemilihan legislatif 2019 lalu. Padahal pada pemilu tahun 2014 sebelumnya, partai Demokrat bahkan tidak termasuk ke dalam lima besar partai dengan perolehan kursi terbanyak.

Tidak hanya modal politik, politisi yang akrab disapa “Teh Celli” ini pun memiliki modal ekonomi yang tentu sangat suportif untuk mempertahankan kekuasaannya sebagai Bupati Karawang dalam pilkada 23 September 2020 mendatang. Selain sebagai seorang dokter, ia merupakan seorang pengusaha yakni sebagai direktur satu perusahaan  direktur PT Karya Ariandi yang bergerak di bidang migas. Selain itu ia juga mempunyai usaha kolam renang, futsal, dan properti. Maka tidak mengherankan apabila pada pilkada 2015, ia tercatat sebagai Calon Bupati Karawang dengan kepemilikan harta kekayaan tertinggi dibandingkan calon lainnya. Bahkan salah satu rumahnya menjadi kantor DPD Partai Demokrat Jawa Barat.

Sementara itu, jika melihat sosok Gina Fadlia Swara maka akan terbesit sosok Ade Swara yang merupakan mantan Bupati Karawang yang saat ini tengah menjalani vonis penjara karena praktik korupsi yang pernah dilakukannya. Berkaitan dengan hal tersebut, Gina merupakan putri sulungnya, yang mana hal ini akan memantu Gina dalam memperoleh dukungan dari basis massa yang dimiliki oleh Ade Swara. Gina sendiri merupakan mantan adik Ipar Cellica dari mantan suaminya, Yedi Karyadi. Yedi Karyadi sendiri merupakan Ketua Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Jawa Barat. Meskipun begitu, secara individu Gina juga memiliki kekuatan politik dengan melihat posisinya saat ini sebagai anggota DPRD Jawa Barat untuk periode 2019-2024. Belum lagi latar belakangnya yang merupakan kader Partai Gerindra, yang dalam pemilu kemarin menduduki posisi kedua dalam perolehan kursi terbanyak di DPRD Karawang. Sehingga membuatnya menjadi pesaing yang patut untuk diperhitungkan.

Perpusaran kekuatan politik elit dalam kontestasi pilkada 2020 di Kabupaten Karawang dapat diidentifikasi sebagai faktor penghambat pendalaman demokrasi (deepening democracy) yang mempersempit ruang kompetisi politik atau dengan kata lain kompetisi yang ada hanya pada lingkaran kecil kelompok elit. Bahkan kelompok elit tersebut saling terkoneksi, baik secara langsung maupun tidak, melalui hubungan material, patron-client, atau pun kekeluargaan/kekerabatan. Inilah yang kerapkali disebut dengan oligarki di mana kekuatan politik dan material (ekonomi) merupakan saudara kembar yang saling berkolaborasi menjadi totalitas kekuatan yang bersifat dominatif dan monopolistis.

Menurut seorang profesor di Northwestern University, Jeffrey A. Winters, semakin tinggi tingkat ketidaksetaraan kekuatan material akan berimplikasi pada semakin tingginya ketidaksetaraan kekuatan politik. Terlepas dari jaminan kesetaraan hak dan kebebasan politik dalam demokrasi, konsentrasi kekuatan material pada kelompok kecil secara sistemik akan mereduksi kelompok mayoritas dalam mengakses kebebasan politiknya. Oleh karenanya bagi Winters, oligarki tidak terlepas dari upaya penguasaan atau pengendalian konsentrasi sumber daya material untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial politik seseorang/kelompok yang eksklusif.

Penulis: Heru Utomo Aji S.I.P (Peneliti IDESSS)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button