Security

SKENARIO DI BALIK PEMBUNUHAN JENDERAL SOLEIMANI?

Presiden Donald Trump mengklaim dirinya memerintahkan drone militer Amerika Serikat (AS) membunuh Soleimani guna menghentikan perang, bukan untuk memulai perang baru. “Soleimani adalah sosok kejam yang menjadikan kematian orang tak berdosa sebagai hasratnya yang sakit”, kata Trump. Ia “tidak ingin mengganti rezim pemerintahan di Iran”.

AS melalui Pentagon mengumumkan jenderal top Iran, Qassem Soleimani, tewas dalam serangan atas arahan presiden. “Atas arahan presiden, militer AS menggunakan tindakan penting dan membunuh Qassem Soleimani, Kepala Pasukan Quds”.

Masih menurut Pentagon, “Soleimani adalah orang yang memerintahkan serangan terhadap markas AS di Irak termasuk serangan roket yang menewaskan seorang kontraktor sipil AS di wilayah Kirkuk pada 27/12/2019 dan AS akan terus melanjutkan tindakan untuk melindungi warga negara dan kepentingan kami di mana pun mereka berada”.

Tensi hubungan antara AS dan Iran meningkat signifikan setelah peristiwa ini. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersumpah akan membalas pembunuhan Soleimani. Menurut Aljazira, berikut ini beberapa peristiwa yang mengarah pada situasi saat ini :

  • Pada 8/5/2018, Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran seperti dijanjikan saat kampanye, “Jika kesepakatan itu tidak dapat diperbaiki, AS tidak akan lagi terlibat di dalamnya”. Menurut Trump “Kesepakatan Iran pada intinya cacat”.
  • Pada 13/5/2019, sabotase kapal tanker di Fujriah Selat Hormus. Kapal-kapal tersebut menurut UEA diidentifikasi sebagai dua kapal tanker Saudi, satu kapal tanker Norwegia, dan sebuah tongkang bunker UEA.
  • Pada 21/5/2019, AS menuntut Iran membuat perubahan besar, mulai menghentikan program nuklirnya hingga menarik diri dari perang Suriah. Tuntutan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, ditolak Teheran.
  • Dua hari berselang, kelompok pemberontak Houthi Yaman, menyerang pipa minyak utama Arab Saudi. AS dan Arab Saudi menuduh Iran mempersenjatai Houthi, tetapi Teheran membantah klaim itu.
  • Pada 27/5/2019, PM Jepang, Shinzo Abe, menawarkan mediasi dengan Iran saat bertemu Trump. Namun mediasi gagal setelah bertemu Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang mengatakan “Saya tidak menganggap Trump sebagai orang yang pantas untuk bertukar pesan dan saya tidak punya jawaban untuknya serta tidak akan menjawabnya”.
  • Sehari kemudian, saat Abe masih di Iran, sebuah kapal tanker Jepang dan satu kapal Norwegia diserang di Teluk Oman.
  • Pada 17/6/2019, Pentagon mengirim 1.000 tentara tambahan, tetapi situasi semakin memanas saat drone militer AS ditembak jatuh pada 20 Juni 2019. AS kemudian mengirim pesawat tempur F-22 Raptor sebagai armada tambahan pada 29/6/2019.
  • Pada tanggal 1/7/2019, PBB menyatakan Iran melampaui batas jumlah kepimilikan uranium sebesar 300 kilogram yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir.
  • Pada 4/7/2019, tanker Iran ditahan Inggris di Gibraltar. Kapal dituduh melanggar sanksi Uni Eropa dengan membawa minyak mentah Iran ke Suriah. Sebagai balasan, pada 19/7/2019, Iran menyita kapal tanker minyak Inggris. Inggris kemudian mengumumkan kapal perangnya akan mengawal semua kapal berbendera Inggris yang melalui Selat Hormuz.
  • Pada tanggal 30/8/2019, PBB kembali mengatakan Iran melampaui batas stok uranium dalam perjanjian nuklir. AS kemudian menjatuhkan sanksi pada Badan Antariksa Sipil Iran dan dua organisasi penelitian atas tuduhan mendukung program rudal balistik Teheran.
  • Pada 14/9/2019, pemberontak Houthi Yaman menyerang Saudi Aramco yaitu kilang  di Abqaiq dan ladang minyak Khurais. Pompeo menyalahkan Iran, tetapi Iran menyebut rekayasa sanksi ekonomi.
  • Pada 24/9/2019, saat berbicara di depan Majelis Umum PBB New York Trump mengecam Iran dan menyerukan agar negara-negara di seluruh dunia memperketat jerat ekonomi terhadap Iran.
  • Pada 15/11/2019, kerusuhan meletus dan meluas di Iran setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar hingga 300%.
  • Pada 27/11/2019, kantor berita resmi IRNA melaporkan agen keamanan Iran menangkap delapan orang yang terkait dengan CIA selama kerusuhan.
  • Pada 27/12/2019, serangan roket ke pangkalan militer Irak di Kirkuk menewaskan seorang kontraktor AS dan melukai beberapa personel AS dan Irak. AS menyalahkan Kataib Hezbollah, milisi yang didukung Iran atas serangan itu. Dua hari kemudian, militer AS menyerang lokasi-lokasi milik Kataib Hezbollah di Irak dan Suriah.
  • Pada 31/12/2019, anggota dan pendukung paramiliter pro-Iran di Irak menerobos kompleks Kedutaan AS di Baghdad, menghancurkan pintu dan membakar bagian-bagian perimeternya. “Iran mengatur serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Irak. Mereka akan bertanggung jawab penuh,” tulis Trump di Twitter.
  • Pada 2/1/2020, Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengatakan bahwa ada indikasi Iran atau kelompok-kelompok yang mendukungnya tengah merencanakan serangan lanjutan terhadap kepentingan AS di Timur Tengah. “Jika itu terjadi, maka kita akan bertindak,”.
  • Pada 3/1/2019 dini hari, dalam serangan udara di bandara Baghdad, AS membunuh Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan milisi Irak yang didukung Iran.

Kepentingan AS di Timur Tengah.

Pertama, ekonomi dalam hal ini minyak dan kontinyuitas produksi/penjualan senjata. Minyak karena kawasan ini memiliki lebih dari 70% cadangan minyak dunia, sementara AS sendiri hanya memiliki kurang dari 3% dari cadangan minyak dunia atau sekitar 30,4 milyar barel termasuk yang berada di kawasan Alasca dan Artic.

Walaupun sebagai konsumen minyak terbesar dunia, AS tidak menggantungkan pada minyak Timur Tengah, karena Amerika memiliki produsen minyak sendiri. Kepentingan AS adalah kontinyuitas lancarnya suplai minyak dari kawasan Timur Tengah serta terjaganya hak eksplorasi perusahaan AS. Paling tidak ada lima perusahaan besar AS (Aramco, Esso, Texaco, Mobil, Socal) di wilayah tersebut. Itu karenanya, Perang Teluk II disebut banyak pihak sebagai perang politik emas hitamnya George Bush.

Selain minyak, yang terkait kepentingan ekonomi adalah penjualan senjata. The Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Senin (12/3/ 2017) mengatakan, transfer global sistem persenjataan utama antara 2013 hingga 2017 meningkat sebesar 10 persen dibandingkan periode lima tahun sebelumnya.

Di antara dua periode yang dicatat SIPRI, AS sebagai salah satu eksportir senjata terbesar di dunia, meningkatkan penjualannya sebesar 25 persen dan masih dalam pernyataan tersebut, selama beberapa tahun mendatang, AS akan tetap menjadi eksportir senjata terbesar di dunia termasuk di Timur Tengah.

Kepentingan kedua adalah Israel. Bagi AS sebagaimana diungkapkan oleh James Feron dalam New York Time 11/6/1966 tentang strategi AS di Timur Tengah, “AS pada akhirnya berkesimpulan bahwa AS harus bergantung kepada kekuatan lokal untuk menangkal kekuatan lain sebagai lini pertama dalam keterlibatan langsung AS. Untuk itu Israel yang paling cocok dengan strategi AS tersebut”.

Hal ini dimungkinkan karena terbentuknya Negara Israel pada 15/5/1948 tidak lepas dari jasa Presiden Truman yang sejak awal berkeyakinan bahwa pengungsi Yahudi Eropa yang akan mendiami negara Israel dan merupakan sekutu AS yang paling dapat dipercaya.

Di saat Israel menghadapi kesulitan ekonomi dan persoalan ikutannya akibat penghentian pembayaran reparasi dari Jerman pada tahun 1965, AS memberi bantuan dan sekaligus menjadikan Israel sebagai kekuatan lokal di wilayah tersebut. Ini berarti musuh AS juga berarti musuh Israel.

Pasca perang enam hari tahun 1967, AS memberi apresiasi luar biasa kepada Israel atas kemenangan perang enam hari,  di saat AS merasa kurang terbantu dalam Perang Vietnam oleh sekutu-sekutunya. Tak berlebihan apabila kemudian AS mengukuhkan Israel sebagai sekutu utama di Timur Tengah.

Pasca perang, AS melengkapi persenjataan Israel. Empat tahun setelah perang, AS meningkatkan bantuan persenjataan sebesar USD 1.5 M. Jumlah ini setara dengan sepuluh kali lipat dari bantuan sepuluh tahun sebelumnya. Praktis, sejak tahun 1967 ketergantungan AS kepada Israel di Timur Tengah terus meningkat, sebuah kepentingan yang terbangun sejak intensi berdirinya negara Israel.

Respon Iran terhadap Offensif AS.

Seiring dengan konflik yang menewaskan Soleimani, Kamis (2/1/2020), siaran TV pemerintah Iran menyatakan pada Minggu (5/1/2020) bahwa Iran tidak akan lagi menghormati pembatasan pengayaan uranium yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015.

Pada Selasa 7/1/2020 seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran sedang mempertimbangkan beberapa skenario untuk membalas kematian Soleimani. Saat pemakaman Soleimani, kepala Garda Revolusi Iran, Jenderal Hossein Salami, juga mengatakan “Kami akan membalas dendam, pembalasan yang keras dan pasti,”

Menurut kantor berita Fars, Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan tiga belas “skenario balas dendam” sedang dipertimbangkan. “Bahkan pilihan skenario terlemah pun akan menjadi bukti mimpi buruk bersejarah bagi Amerika”. Didorong oleh reaksi publik yang kuat atas pembunuhan Soleimani di tanah Irak, anggota parlemen di Irak buka suara. Ia menuntut penghapusan semua pasukan asing dari negara itu.

Sebagai tindak lanjut gertakan ini, pada 8/1/2020 Iran menembakkan sejumlah rudal ke Markas Pasukan AS di Al-Assad dan Irbil Irak. Dalam serangan ini Iran mengklaim telah menewaskan 80 prajurit AS, tetapi Trump menyangkal bahwa tidak ada korban prajurit AS.

Pasca serangan rudal yang ditujukan ke Al-Assad dan Irbil, Iran mengancam akan menghancurkan kota-kota di Israel dan Uni Emirat, sebagaimana pernyataan Kepala Biro NBC News Teheran, Ali Arouzi “Iran memperingatkan bahwa jika ada pembalasan atas dua gelombang serangan yang mereka luncurkan, gelombang ketiga mereka akan menghancurkan Dubai dan Haifa”.

Siapa Soleimani?
Jenderal Soleimani dikenal dan dipandang sebagai sosok terkuat di belakang Ayatollah Ali Khamenei, diprediksi sebagai pemimpin Iran berikutnya. Sebagai komandan Pasukan Quds, dia adalah prajurit di balik sepak terjang militer dan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Sebutan ini tidak lepas dari peran sentralnya dalam membantu Presiden Suriah Bashar al-Assad melawan pemberontak di Suriah, kebangkitan paramiliter pro-Iran di Irak, perang melawan kelompok ISIS, dan banyak pertempuran lainnya di wilayah teluk. Karenanya, AS menyebut Soleimani adalah tokoh penting di balik kampanye lama Iran untuk mengusir AS dari Irak dan orang yang bertangungjawab terbangunnya jaringan proksi Teheran di Timur Tengah.

Quds merupakan unit elit Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) di bawah komando langsung Ayatollah. Selama 21 tahun kepemimpinannya, pasukan Quds mendukung Hizbullah dan kelompok-kelompok militan pro-Iran lainnya di Lebanon. Sepak terjangnya membuat Iran mampu memperluas kehadiran militer di Irak dan Suriah.

Meluasnya pengaruh Iran di kawasan serta solidnya kekuatan poros syiah di dalam konflik Suriah, Yaman, Irak, dan lainnya tak lepas dari tangan dingin tokoh ini. Bagi musuh Iran, tokoh ini bagai monster pembunuh yang menebar kematian, karena dia memang terlibat aktif di hampir semua front yang melibatkan Iran. Ia adalah tokoh kunci yang menghubungkan Iran dengan poros-poros sekutunya di berbagai kawasan.

Implikasi Konflik terhadap Stabitas Harga Minyak.

Menurut CNBC 7/1/2020, jika konflik AS dan Iran berlangsung panjang bakal meningkatkan risiko di sektor ekonomi dan keuangan. Dalam siaran tersebut, menurut analis senior, Moody’s Alexander Perjessy,  “Jika konflik (AS vs Iran) terus berlanjut dan meluas maka akan berimplikasi secara meluas terhadap ekonomi dan finansial yang secara signifikan akan memperburuk kondisi operasional dan keuangan”. Selain itu, “Konflik yang berlarut-larut berpotensi menimbulkan dampak global, khususnya melalui pengaruhnya terhadap harga minyak.”

Pada Senin 6/1/2020 harga acuan minyak mentah Brent mencatatkan level tertinggi sejak September 2019 yaitu sebesar 70,74 dollar AS per barrel sementara West Texas Intermediate mencatatkan harga tertinggi sejak April di 64,72 dollar AS per barrel.

Perjessy mengatakan bahwa bagi produsen minyak di Timur Tengah harga yang lebih tinggi dapat mengurangi beberapa implikasi negatif kredit, selama permintaan tetap tinggi dan negara-negara dapat melanjutkan ekspor.

Dunia melihat fenomena ini tentu terbelah antara yang menikmati kenaikan dan yang menentangnya. Bagi trader sejauh menguntungkan, mereka akan bermain di antara ketegangan-ketegangan yang terjadi.  Lebih jauh tidak akan mungkin AS melepaskan kepentingan ekonominya di Timur Tengah.

Trump Pasca Impeachment di Kongres.

Trump terpilih menjadi Presiden AS karena kemampuannya membalikkan pakar politik yang cenderung menggunakan hasil pooling. Di luar sistem, menurut BBC News 9/9/ 2016, ada lima faktor pribadi yaitu : Ia adalah orang yang mampu menarik orang yang merasa ditinggalkan; Kontroversi dan daya tarik pribadi; Sangat independen dan tidak senang kemapanan; Keputusan FBI terkait email pribadi Hellry, dan; Menggunakan instingnya dalam setiap kampanye.  

Namun, dari kasus yang disidangkan di Kongres, kasus komunikasi antara Presiden Trump dengan Presiden Ukraina, Volodynyr Zelensky, diangap sebagai kasus penyalahgunaan kekuasaan dan menghalang-halangi penyelidikan yang dilakukan oleh Kongres. Sidang kongres AS menyetujui pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump pada Rabu 18/12/2019, selanjutnya Presiden Donald Trump resmi dimakzulkan di tingkat Kongres AS.

Pemakzulan selanjutnya akan disidangkan di Senat yang diagendakan bersidang pada Januari 2020. Menurut editor The Telegraph, Ben Riley Smith, sang presiden bisa lolos karena mayoritas dipegang oleh partainya, tetapi akan menghadapi situasi ketidakpastian menjelang pilpres AS 2020.

Pada pemilu 2020, Trump akan melanjutkan masa kepresidenannya dengan jargon “Keep America Great”, sebuah kelanjutan jargon pada pemilu 2016 yaitu “Make America Great Again”. Dukungan publik Amerika tentu dibutuhkan untuk kemenangan Trump. Apakah permainan di teluk kali ini merupakan bagian dari kampanye Trump?

Kemungkinan Situasi yang Berkembang.

Apakah pasca ditembaknya Jenderal Soleimani perang terbuka akan terjadi?

Iran memiliki cukup kapasitas untuk mengganggu kepentingan Amerika dan sekutunya di kawasan. Selain itu juga memiliki jutaan milisi yang tersebar di berbagai negara kawasan tersebut. Jika Iran mengobarkan perang melawan AS dan sekutunya, perang akan berlangsung lama.

Walaupun memiliki kemampuan, diyakini perang terbuka bukan opsi Iran. Opsi perang terbuka memerlukan pertimbangan panjang dan kompleks. Risiko tentu terlalu besar bagi siapa pun. Apalagi pangkalan militer AS tersebar di sekitar Iran.

AS dengan mudah dapat menggerakkan pasukan dalam jumlah besar untuk melakukan serangan ke wilayah Iran dalam hitungan menit. Belum lagi kapal induk Amerika selalu berlayar tak jauh dari kawasan itu dan Iran sedang menghadapi persoalan pelik pasca penembakan pesawat sipil Ukraina.

Ada dua kemungkinan yang lebih masuk akal bagi Iran. Pertama, Iran akan melakukan serangan dengan target terbatas terhadap pasukan militer Amerika, sekutu, atau kepentingan keduanya. Pilihan lain adalah Iran menutup Selat Hormuz atau setidaknya mengganggunya.

Dengan reputasi gemilang Jenderal Soleimani yang dicapai, tewasnya bersama Abu Mahdi Al-Muhandis dari Irak berarti keberhasilan AS melemahkan bahkan melumpuhkan jaringan Iran di Timur Tengah khususnya kawasan teluk tanpa harus melakukan pengorbanan yang sangat besar untuk kepentingan AS.

Bagi Donald Trump, untuk sementara mission accomplished, dan dinamika aktivitas militer di Timur Tengah tetap dapat dikontrol AS. Dalam kondisi demikian, Trump akan dapat memainkan situasi sebagaimana respon yang dilakukan pasca penembakan rudal Iran. Inilah kontroversi Donald Trump, di saat publik berfikir Perang Dunia III, dia santai dan dingin menanggapi.

Dalam situasi di mana Trump berupaya memenangkan pertarungan di Senat dengan Partai Republik lebih dominan, perilaku kontroversial justru menjadi senjata utama. Pernyataannya langsung tentang perintah untuk  menghabisi Soleimani adalah bagian dari kontroversi Trump.

Keep America Great adalah jargon kelanjutan dari Make America Great Again. Jargon ini menjadi tema kampanye Trump untuk masa kepresidenan yang kedua. Dalam konteks ini, konstelasi yang sedang terjadi di Timur Tengah justru terlihat jelas sebagai bagian permainan Trump untuk kembali berkuasa.

Hal ekstrim juga boleh dikatakan, bahwa kematian Soleimani lebih terlihat dari dimensi kepentingan Donald Trump dari pada kepentingan AS.

Penulis: Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono

Ketua Dewan Pembina IDESSS, Direktur Utama BWASS dan Ketua Bidang Pengkajian PPAD, serta; Mantan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B), Sekjen Wantanas, Komandan Kodiklat TNI AD, Komandan Bantuan TNI Penanggulangan Tsunami, dan Pangkoops TNI Aceh.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button