Democracy

SUARA GUE PENTING

Persentase pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golongan putih (golput) dalam Pemilu di Indonesia setelah 1998 meningkat. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam Grafik 1 dan Grafik 2.


Sumber: telah diolah kembali dari KPU dalam Tirto.id (2018)

Grafik 1 menunjukkan persentase golput dari Pemilihan Presiden (Pilpres) oleh rakyat pertama kali di tahun 2004 sampai Pilpres terakhir di tahun 2014. Golput dalam data ini merujuk pada mereka yang tidak datang ke TPS saat hari pemungutan suara. Persentase golput ini semakin meningkat dari 21,8% di Pilpres tahun 2004 putaran 1 sampai 29,01% di Pilpres tahun 2014. Akankah di Pilpres mendatang (17 April 2019) tren peningkatan persentase golput ini akan berlanjut? Ataukah tren peningkatan ini akan berakhir (read: menurun) di Pilpres 2019?

Tren yang berbeda ada di Pemilihan Legislatif (Pileg). Meskipun tren golput meningkat di Pileg tahun 1999, 2004, 2009, tetapi di Pileg tahun 2014 terjadi penurunan persentase golput. Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 2.


Sumber: telah diolah kembali dari KPU dalam Tirto.id (2018)

Grafik 2 menunjukkan perbandingan persentase golput dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) dari tahun 1999 sampai 2014. Sebagaimana Grafik 1, golput dalam data ini juga merujuk pada mereka yang tidak datang ke TPS saat hari pemungutan suara. Terjadi peningkatan persentase golput hampir dua kali lipat di Pileg tahun 2004 dan 2009, namun terjadi penurunan sebesar 4,21% di Pileg tahun 2014.

Tingginya persentase golput di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor (Nurhasim, Nuryanti, Tryatmoko, Yanuarti, Haris, Bhakti, 2010). Satu, lupa kapan hari pencoblosan. Dua, bangun kesiangan dan pas sampai TPS udah gak bisa nyoblos lagi. Tiga, pindah domisili atau ngerantau sehingga gak bisa nyoblos caleg. Empat, yang pindah domilisi atau ngerantau malas urus formulir A5 jadi gak bisa nyoblos capres. Lima, lagi jalan-jalan mumpung hari libur nasional. Enam, sedang sakit. Tujuh, sengaja gak nyoblos sebagai bentuk protes dari sistem politik atau kandidat calon yang ada.

Apapun alasannya, golput itu mengakibatkan legitimasi pemerintah terpilih berkurang lho. Menurut Aragón (t.t., hlm. 1), legitimasi politik sangat diperlukan agar pemerintahan lebih mampu bertahan dalam masa krisis. Soalnya, legitimasi mempertahankan stabilitas politik dengan memberikan alasan bagi rezim pemerintah untuk tetap eksis. Negara yang legitimate atau dikelola dengan dukungan penuh dari masyarakat berdampak pada pembuatan dan pengimplementasikan kebijakan yang efektif. Maka, berkurangnya legitimasi politik akan berdampak pada terganggunya proses pembangunan dan akan mengancam kestabilan negara. Kita gak mau kan jika hal ini terjadi?

Makanya jangan sampe kita gak menyuarakan suara kita di Pemilu mendatang. Soalnya suara kita itu penting banget lho. Ini empat alasan kenapa suara gue, lo, dan kita semua itu penting.

Pertama, penting soalnya satu suara aja menentukan. Contohnya dalam dunia bola. Sebelum kickoff pekan ke-38, Manchester City punya peluang yang jauh lebih kecil dari pada Manchester United (MU). City hanya unggul selisih gol, dan bisa tersandung di pertandingan terakhirnya melawan Queens Park Rangers. Gol Jamie Mackie di menit 66 kembali membuat City kembali tertinggal dan MU kembali dalam posisi siap juara. Namun, gol-gol yang tercipta di masa injury time justru membuat keadaan berbalik dan cukup untuk memenangkan City sebagai juara Premier League di tahun 2012 (Detiksport, 2012). Cuma beda selisih gol aja, MU yang musim lalu juara dan sudah mengoleksi 12 tropi Premier League harus merelakan gelar juara untuk “tetangga” mereka. Jadi, seperti kasus MU, biar pun selisih cuma satu suara, itu kan yang nanti menentukan Indonesia akan seperti apa.

Kedua, penting soalnya jadi barometer demokrasi di Indonesia. Apakah mencerminkan politik yang partisipatif atau politik yang apatis. Kalau banyak dari kita yang nyoblos saat pemilihan, berarti politik Indonesia mencerminkan politik yang partisipatif. Beda cerita kalau kita pada gak nyoblos, atau bahkan tidak pernah memedulikan isu-isu politik, itu mencerminkan politik yang apatis. Jadi, kalau kita semakin banyak yang golput, ya jadi barometer demokrasi di Indonesia akan semakin buruk dong.

Ketiga, penting soalnya bisa menentukan program kerja Pemerintah Indonesia ke depan. Kita bisa mengekspresikan apa yang kita percaya dan apa yang kita mau untuk pemerintah Indonesia. Misalnya, kita percaya suatu saat akan semakin susah untuk mencari pekerjaan, maka ya solusinya cari calon yang bisa menyediakan lapangan pekerjaan buat kita sebanyak-banyaknya. Bayangkan saja, setiap tahun terdapat 2 juta tenaga kerja baru, baik yang baru lulus kuliah maupun lulus sekolah. Sementara jumlah penduduk usia produktif yakni kelompok umur 15-64 tahun mencapai 68,7% dari total populasi (Kata Data, 2019). Dengan presentase sebesar itu, kita akan susah cari kerja terlebih jika pemerintah tidak berupaya untuk menambah lapangan pekerjaan. Jadi dengan punya hak suara, kita dapat memilih calon yang menurut kita dapat merealisasikan aspirasi kita, bener kan?

Keempat, penting soalnya bisa mengganti atau mempertahankan pemerintahan baik legislatif maupun eksekutif. Artinya, kita dapat mengevaluasi kinerja pejabat/pemerintah yang kita pilih di Pemilu sebelumnya, apakah pejabat tersebut gaji buta, melakukan korupsi, atau kinerjanya sudah baik. Dengan suaramu, kita bisa memilih kembali atau tidak memilih kembali pejabat itu berdasarkan evaluasi kita terhadap kinerjanya.

Jadi, dari keempat alasan diatas sudah menjawab kan kenapa suara kita itu penting. Karena siapapun yang akan kita pilih, tentu akan menentukan nasib gue, lo dan kita untuk lima tahun kedepan. Suara kita itu penting, yuk nyoblos!


Sumber: Rasan, 2019

Referensi :

Dwi Andayani. (2018). DPT Pemilu 2019 Sudah Final, Totalnya 185 Juta Pemilih. 8 Februari 2019. https://news.detik.com/berita/4186665/dpt-pemilu-2019-sudah-final-totalnya-185-juta-pemilih

Kata Data. (2019). Jumlah Penduduk Indonesia 2019 Mencapai 267 Juta Jiwa. 8 Februari 2019 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-mencapai-267-juta-jiwa pada 8 Februari 2019

Detiksport. (2012). Akhir Liga Inggris yang Sangat Dramatis. 8 Februari 2019. https://sport.detik.com/sepakbola/liga-inggris/1916229/akhir-liga-inggris-yang-sangat-dramatis pada 8 Februari 2019

Purnamasari, Desi. (2018). Gelombang Golput yang Tak Pernah Surut. 4 April 2019. https://tirto.id/gelombang-golput-yang-tak-pernah-surut-cVnc

Aragón, Jorge. (t.t.). Political Legitimacy and Democracy. Encyclopedia of Campaigns, Elections and Electoral Behavior. Sage Publications

Trollfootball. (t.t.). EPL Winners!. 12 April 2019. https://www.trollfootball.me/images/view/epl winners

Nurhasim, Moch. (Eds). (2014). Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014: Studi Penjajakan. LIPI & KPU

Rasan, San. (2019). Kertas Suara 2019 Lima Warna, Biru Daun Satunya. 12 April 2019. https://donjandon.com/kertas-suara-2019-lima-warna-biru-daun-satunya/

Penulis: Anjar Maulitfiani, S.I.P & Fitria Jelita, S.I.P

Keduanya merupakan Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan aktif dalam kegiatan penelitian dan pendidikan politik bagi anak muda.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button